Artikel


Olahraga Secara Rutin Pelihara Daya Ingat

Berolahraga secara rutin membantu orang tetap sehat secara fisik dan lebih tajam secara mental saat memasuki usia tua, demikian hasil empat studi yang disiarkan di Archives of Internal Medicine, Washington, Senin (26/1/2010). Salah satu studi itu mendapati bahwa perempuan yang berolahraga selama berusia setengah baya—yang didefinisikan rata-rata berusia 60 tahun oleh para peneliti di Harvard School of Public Health, Brigham and Women’s Hospital, dan Harvard Medical School—memiliki kemungkinan lebih kecil setelah berusia 70 tahun untuk terserang penyakit kronis, operasi jantung atau fisik, dan gangguan mental atau daya ingatan.

Satu studi lain mendapati bahwa setahun pelatihan peregangan, satu atau dua kali per pekan, meningkatkan daya perhatian perempuan yang berusia setengah baya dan kemampuannya untuk menyelesaikan konflik. Studi ketiga mendapati bahwa orang dewasa yang berusia 55 tahun dan lebih tua lagi yang terlibat dalam kegiatan fisik sedang atau tinggi menghadapi kemungkinan lebih kecil untuk mengalami gangguan daya kognitif dibandingkan dengan sebaya mereka yang kebanyakan duduk. Dan perempuan yang berusia 65 tahun atau lebih tua yang ikut dalam program olahraga selama 18 bulan tampaknya memiliki tulang yang lebih padat dan risiko lebih kecil untuk terjatuh dibandingkan dengan perempuan dalam usia yang sama yang kurang mengikuti program “kebugaran” yang aktif, demikian hasil studi keempat.

Temuan mengenai studi itu, yang dilakukan di Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat, boleh jadi adalah apa yang diinstruksikan para dokter untuk membuat lebih banyak orang Amerika berolahraga, kata penulis studi pertama. “Karena penduduk Amerika dengan cepat menjadi tua dan hampir seperempat orang Amerika tak terlibat dalam kegiatan waktu luang apa pun, temuan kami tampaknya mendukung panduan federal berkenaan dengan kegiatan fisik guna mendorong kesehatan di kalangan orang yang berusia lanjut dan kesejahteraan dengan bertambahnya usia,” kata para penulis studi itu.

“Pendapat bahwa kegiatan fisik dapat mendorong kelangsungan hidup secara lebih berhasil daripada hanya menambah usia mungkin memberi alasan yang sangat kuat bagi orang untuk memulai kegiatan fisik,” kata mereka.

Jangan “Ngemil” Habis Olahraga

Para atlet umumnya diminta untuk mengisi “tangki” perut mereka dengan camilan atau minuman berenergi, sesaat setelah selesai berolahraga. Namun bagi kita yang tengah berusaha mengurangi berat badan, tindakan tersebut justru akan membuat lemak yang sudah kita bakar menjadi sia-sia.   “Karena tujuan kita adalah untuk membuat tubuh ramping, maka seharusnya kita tidak memakan kembali kalori yang sudah dibakar,” ucap Barry S Braun, Direktur Energy Metabolism Laboratory di University of Massachusetts.

Ketika kita mengonsumsi kembali kalori yang telah dibakar, Braun menjelaskan, hal itu justru akan mendatangkan risiko baru, yaitu gangguan jantung. Lalu, mengapa para atlet justru melakukan sebaliknya? “Karena tujuan olahraga seorang atlet berbeda dengan orang awam. Tidak hanya membuat tubuh sehat, tapi juga ada unsur kompetisi di dalamnya. Itu mengapa mereka selalu mendapatkan nasihat yang berlawanan dengan kita.”

Braun kemudian bercerita mengenai penelitian yang sudah dipublikasikan di Journal of Applied Physiology, Nutrition and Metabolism. Sebanyak 10 orang laki-laki dan perempuan dengan kelebihan berat badan dijadikan responden dalam penelitiannya. Pada penelitian tahap pertama, respoden diminta untuk melakukan olahraga jalan di treadmillselama satu jam sehari agar 500 kalori dapat dibakar. Kemudian, responden dibagi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan minuman tinggi kalori sesaat setelah menyelesaikan olahraga. Adapun kelompok kedua  hanya diberi air putih.

Olahraga yang mereka lakukan berhasil menekan kadar insulin hingga 40 persen. Namun, manfaat ini hilang seketika ketika kelompok pertama mengonsumsi minuman berenergi tersebut. Ini membuat Braun dan timnya penasaran, apakah hal ini terjadi karena jenis minuman berkalori yang diberikan?

Maka dari itu, dilakukanlah penelitian kedua. Para responden diminta untuk mengayuh sepeda selama 75 menit dan sesaat setelah itu, kelompok pertama diminta untuk menikmati makanan yang tinggi karbohidrat. Adapun kelompok kedua diberi makanan dengan kadar karbohidrat rendah, tetapi dengan jumlah kalori yang sama dengan kelompok pertama.

Hasilnya, kemampuan insulin untuk membersihkan jejak gula dalam darah ternyata lebih baik pada kelompok kedua. Artinya, makanan tersebut berjalan lurus dengan program pembakaran karbohidrat. Itu mengapa Braun menyarankan agar kita tidak langsung ngemil setelah berolahraga agar usaha kita membakar lemak dan karbohidrat bisa berjalan sukses. Kalaupun terpaksa harus makan, kita harus memilih makanan yang bukan berbentuk karbohidrat karena karbohidrat inilah yang nantinya akan mengundang kembali kalori yang sudah kita bakar. Bahkan, jumlahnya bisa dua kali lebih banyak dari yang kita buang di atas treadmill atau sepeda.

Sumber:  kompas.com

2 Responses “Artikel” →
  1. berarti orang pintar harus rajin olahraga

    Balas
  2. klo gtu hruz ttp olahraga olah otak….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: